Umum

Masjid Menjawab Tantangan Zaman: Dari Keluarga Sakinah hingga Keteladanan Rasulullah

06 September 2026 · Mochammad Farid Syahrizal · 0x dibaca

Masjid Menjawab Tantangan Zaman: Dari Keluarga Sakinah hingga Keteladanan Rasulullah
Tantangan keluarga hari ini tidak lagi sederhana. Perubahan teknologi, derasnya arus informasi, pergeseran pola komunikasi, hingga persoalan sosial membuat keluarga membutuhkan ruang untuk belajar, berkonsultasi, dan mendapatkan pendampingan.

Masjid pun dituntut tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga hadir menjawab persoalan nyata kehidupan umat.

Semangat itulah yang dikembangkan melalui Klinik Keluarga Sakinah yang bertempat di Masjid Jenderal Sudirman Surabaya. Keberadaannya menjadi bagian dari ikhtiar dakwah untuk menjadikan masjid sebagai ruang yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam membangun keluarga yang kokoh di tengah perubahan zaman.

Hal tersebut disampaikan dalam rangkaian Kajian Matahari Terbit Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng Surabaya, Ahad (6/9/2026), di Masjid Jenderal Sudirman. EkonomiIslam

Dalam sambutannya, Ketua Klinik Keluarga Sakinah sekaligus Ketua Majelis Tabligh Aisyiyah Pimpinan Daerah Surabaya, Bu Etty Sunanti, S.Th.I., M.Psi., memperkenalkan berbagai ikhtiar yang dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Program yang dikembangkan tidak hanya menyentuh persoalan keagamaan, tetapi juga mencakup agama dan pendidikan, sosial, hukum, serta pembinaan mualaf melalui Mualaf Learning Center.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan keluarga dan masyarakat membutuhkan dakwah yang hadir secara utuh. Masjid tidak cukup hanya memberikan nasihat, tetapi juga perlu menjadi tempat masyarakat menemukan pendampingan ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Salah satu program yang mendapatkan perhatian adalah Mualaf Learning Center. Dalam satu tahun, tercatat 32 mualaf mendapatkan pembinaan.

Masjid Jenderal Sudirman juga menjadi salah satu dari tiga masjid pusat pembinaan mualaf di Surabaya yang mendapat perhatian BAZNAS, bersama Masjid Rahmat dan Masjid Cheng Ho.

Program tersebut memperlihatkan wajah dakwah yang tidak berhenti di mimbar. Setelah seseorang mendapatkan hidayah, ada proses panjang untuk mendampingi, menguatkan, dan membangun pemahaman keagamaannya.

Dari persoalan keluarga hingga pembinaan mualaf, pesan yang dibangun memiliki satu benang merah: umat membutuhkan ruang yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai agama.

Setelah sambutan tersebut, Ketua PCM Gubeng, Ust. Drs. Sulaiman, MA., turut memberikan sambutan dan meneguhkan pentingnya kegiatan dakwah serta pembinaan umat melalui berbagai gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah serta ortom-ortom. EkonomiIslam

Kajian kemudian memasuki materi inti yang disampaikan KH. Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag., Dosen UMSURA sekaligus Dewan Penasihat MUI Surabaya periode 2024–2029.

Mengangkat tema “Kepemimpinan Rasulullah: Meneladani Pemimpin yang Amanah, Cerdas, dan Melayani”, Mahsun membawa jamaah melihat bagaimana keteladanan Rasulullah SAW tetap relevan untuk menjawab persoalan kehidupan hari ini.

Menurutnya, Rasulullah SAW merupakan sosok pemimpin yang memiliki kemampuan menggerakkan manusia sekaligus menjadi teladan. Kepemimpinan beliau dibangun melalui empat sifat utama, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

Siddiq menempatkan kejujuran sebagai dasar kepercayaan. Amanah mengajarkan pentingnya menjaga tanggung jawab. Tabligh menuntut kemampuan menyampaikan pesan secara jelas dan elegan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026
Sedangkan fathonah mengajarkan pemimpin untuk berpikir jauh ke depan, memahami konteks zaman, dan mengambil keputusan secara bijaksana.

Mahsun juga mengingatkan bahwa umat Islam saat ini tidak hanya menghadapi krisis kepemimpinan, tetapi juga krisis keteladanan. KarakterIslami

Pemimpin perlu mampu mengendalikan emosi, mengelola konflik, menerima perbedaan, serta membangun lingkungan yang solid dan melayani.

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah gambaran sederhana yang ditampilkan dalam materi kajian:

“Pemimpin teladan tidak akan sibuk mencari sorotan dan pencitraan. Tetapi ia akan sibuk menyalakan lilin untuk menerangi jalan yang gelap.”

Perumpamaan itu seolah melengkapi gagasan tentang fungsi masjid dan dakwah yang dibangun di Masjid Jenderal Sudirman.

Masjid tidak harus menjadi tempat yang paling ramai sorotan, tetapi harus menjadi tempat yang paling terasa manfaatnya.

Demikian pula pemimpin. Tugas utamanya bukan meminta untuk dilayani, melainkan memenuhi kebutuhan orang yang dipimpinnya. Wibawa tidak semata-mata datang dari jabatan, tetapi tumbuh dari manfaat.

Masyarakat mengikuti bukan karena takut, melainkan karena merasa dibantu, didengar, dan diperjuangkan.

Dari Masjid Jenderal Sudirman, pesan Kajian Matahari Terbit menjadi semakin luas. Menjawab tantangan zaman tidak selalu berarti mengikuti semua perubahan, tetapi memastikan perubahan tidak membuat umat kehilangan arah.

Keluarga diperkuat, mualaf didampingi, masyarakat dilayani, dan pemimpin dibentuk melalui keteladanan.

Inilah wajah dakwah yang terus dihidupkan Muhammadiyah dan Aisyiyah: dakwah yang tidak hanya berbicara kepada umat, tetapi hadir bersama umat. EkonomiIslam

Sebab, masjid yang hidup bukan hanya masjid yang dipenuhi jamaah ketika waktu salat tiba. Masjid yang hidup adalah masjid yang hadir ketika umat membutuhkan tempat untuk bertanya, belajar, bertumbuh, dan menemukan jalan keluar.

Masjid Jenderal Sudirman menjawab tantangan zaman dengan satu prinsip: mencerahkan umat melalui ilmu, menguatkan keluarga melalui pendampingan, dan menghadirkan keteladanan melalui pelayanan.
Bagikan:

Berita Lainnya